Selasa, 24 November 2009

DERITA PEDAGANG KAKI LIMA


” Saya Harus Menafkahi Suami dan Lima Anak”

Derita seorang ibu bernama Mimi ( 43 ) yang membesarkan anak anaknya dengan mengandalkan dagangannya dengan menggunakan gerobak bantuan Badan Amil Zakat Kab Rohil yang telah dilakoninya selama 3 tahun tidak peduli hujan atau panas memang cukup membuat kita simpati. Malam itu Fakta Post mencoba berbagi dengan ibu tersebut. ” Beginilah Pak saya sehari hari, malam berdagang ditaman kota, siang berjualan di depan sekolah Bintang Laut,” Papar Mimi. ”Apalagi anak saya masih ada yang kuliah, dua orang, masih ditingkat delapan di UNRI, memang pertama waktu anak saya masuk kuliah kehidupan kami masih dibilang cukup karena saat itu suami saya masih kerja di kapal, tapi sekarang suami saya tidak bisa berbuat apa – apa karena sudah lumpuh dan buta,” ujar Mimi dengan mata berkaca kaca. ”anak saya kalau tidak aral melintang cuma tinggal satu tahun untuk menamatkan kuliahnya, sayang kalau berhenti,”. Dalam berjualan Ibu Mimi bisa mengantongi paling sedikit Rp 50.000/hari. Itupun kalau tidak hujan. Karena rata rata dagangannya berupa minuman dan seandainya hujan maka orang jarang untuk membeli minuman yang dijualnya dengan menggunakan bungkusan. ” Kadang – kadang cukup untuk makan Pak,” ujar Mimi. ”kemarin saya hampir tiga hari tidak jualan karena sering di Razia Satpol PP,”. Malah kemarin saya ditegur oleh Satpol PP karena berjualan di depan Sekolah Bintang Laut, maka terpaksa kami perai dulu berdagang. Kuat dugaan Kepala Sekolah Bintang Laut menyurati Satpol PP karena dagangan Kantin sekolah jadi tidak laku akibat ulah pedagang kaki lima yang banyak mangkal di depan sekolah tersebut. Namun perlakuan yang diberikan kepada ibu tersebut tidak menyurut sikap optimisme seorang Ibu yang ingin menafkahi kelima anak anaknya yang masih dalam tanggungannya. ” banyak orang mengira saya kelihatan serakah karena bekerja tanpa henti siang malam, namun itu saya lakukan demi anak anak saya yang masih kuliah,” ungkap mimi dengan nada sedih. Dalam berdagang ia telah difasilitasi oleh BAZ Rokan Hilir dengan memberikan bantuan berupa gerobak sorong yang sebelumnya cuma mengandalkan meja kecil untuk meletakkan dagangannya. Sekarang ia bersyukur atas pemberian bantuan gerobak tersebut ia bisa berdagang keliling tanpa khawatir hujan dan panas matahari. 2.5 % dari hasil dagangannya ia sisihkan untuk BAZ sesuai dengan konsep syariah dan ketentuan bagi penerima bantuan BAZ agar hasil tersebut bisa dinikmati oleh orang lain yang mempunyai nasib yang sama tapi mempunyai itikad untuk merubah nasibnya dengan cara berdagang. Menurut penuturan dari petugas kebersihan yang sehari hari bekerja di areal taman kota, semua pedagang yang berjualan di seputaran taman kota terindikasi harus menyetor uang keamanan kepada Pemuda Pancasila sebesar Rp 80.000/bulan. Harapan ibu tersebut tidak muluk muluk. Ia cuma mengharapkan seandainya Pemerintah ingin memindahkan pedagang jangan cuma bisa mengusir tapi tempatkan kami ditempat yang bisa untuk kami berdagang dan tidak jauh dari keramaian,” paparnya. Dan ia juga berharap kepada Pemerintah untuk bisa memberikan ia tempat berteduh dengan suami dan kelima anaknya berupa rumah layak huni, karena sekarang ia menumpang di rumah orang yang sewaktu waktu bisa didepak seandainya rumah tersebut mau disewakan. Memang kita harus berkaca dengan daerah lain, rata rata PAD diperoleh dari retribusi pasar dari pedagang, sudah selayaknya pedagang pedagang kecil kita lindungi dengan meningkatkan gairah berusaha masyarakat dengan memberikan pinjaman kredit lunak dan program program lainnya yang menyentuh masyarakat kecil, bukankah itu anjuran dari Mentri Surya Dharma Ali tentang UMKM, kalau tidak dari sekarang kapan lagi

Tidak ada komentar:

It's me

It's me

Jemur Island

Jemur Island

Menikmati Keagungan Tuhan

Menikmati Keagungan Tuhan

Lomba Tradisional Sampan Lopap

Lomba Tradisional Sampan Lopap
pacu sampan lopap

Potret

Potret
Masyarakat Bagan
Negeri Seribu Kubah

Gallery

Hai Sobat! Selamat Datang Di Jalan Perwira Bagansiapiapi